Wednesday, May 23, 2012

PEMERIKSAAN FISIK


BAB I
PENDAHULUAN

1.      LATAR BELAKANG
Perawat masa kini dituntut untuk memberikan pelayana kesehatan / keperawatan yang bermutu tinggi kepada masyarakat. Hal ini dapat diwujudkan bila perawat mampu menggunakan metode pendekatan pemecahan maaslah, menerapkan hasil penelitian terbaik, bekerjasama dengan baik bersama tim kesehatan serta melakukan pengkajian kemampuan diri untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari asspek profesional yang harus dikuasai.
Pengkajian fisik tidak dipandang secara terpisah karena aspek ini merupakan salah satu tahap upaya penanganan kesehatan klien. Tujuan pengkajian fisik keperawatan bergantung pada jenis pengkajian yang harus diliakukan. Era pelayanan kesehatan saat ini tidak lagi memfokuskan pada kondisi sakit, tetapi pada kesehatan promotif dan aspek kesehatan/ kesejahtraan pasien..
Pengkajian fisik bertujuan untuk menentukan status kesehatan sekarang dan bagaiman klien mampu menjalankan fungsi tubuh secara umum.     Teknik pengkajian fisik keperawatan adalah :
1.      Inspeksi           : Merupakan proses observasidengan menggunakan mata. Inspeksi dilakukan untuk mendeteksi tanda-tanda fisik yang berhubungan dengan status fisik.
2.      Palpasi             : Dilakukan dengan menggunakan sentuhan / rabaan.
3.      Perkusi            : Metode pemeriksaan dengan cara mengetuk. Tujuan perkusi adalah menentukan batas-batas organ / bagian tubuh dengan cara merasakan vibrasi yang ditimbulkan akibat adanya gerakan yang diberikan kebawah jaringan.
Auskultasi       : Metode pengkajian yang menggunakan steteskop untuk memperjelas pendengaran.

2.      TUJUAN
·         Tujuan Umum
Agar mahasiswa/i S1 Keperawatan tingkat II mengerti bagaimana cara pemeriksaan fisik diagnostik dari kepala, leher dan thorax.

·         Tujuan Khusus
-          Agar mahasiswa/i ! Keperawatan Tingkat II semester III mengerti dari tujuan pemeriksaan fisikdiagnostik kepala, leher dan thorax.
-          Agar mahasiswa/i ! Keperawatan Tingkat II semester III mengerti dan memahami prosedur / cara pelaksanaan pemeriksaan fisik kepala, leher, dan thorax.



3.      SASARAN
Sasaran penulis makalah ini ditujukan kepada saluran mahasiswa/i STIKES Santa Elisabeth Medan  terkhusus S-1 Keperawatan Tingkat II.



4.      METODE PENULISAN
Adapun metode yang digunakan adalah berdasrkan sumber-sumber yang tercapai yakni buku-buku perpustakaan dan internet



5.      METODE PENYAJIAN
Cara menyajikan makalah ini dilakukan dengan mengadakan persentasi atau seminar antar mahasiswa/I dan dosen.


6.      KBM
KBM (Kegiatan Balajar Mengajar)
Kegiatan
Kegiatan kelompok
Kegiatan mahasiswa
Pembicara
Media
Pendahuluan
·         Mengucapkan saalam kepada pembimbing dan mahasiswa/I
·         Memperkenalkan diri kepada mahasiswa/i
·         Menyebutkan judul yang akan di presentasikan kelompok evaluasi awal, penanyakan pengertian pemenuhan kebutuhan oksigenisasi.
Mendengar



Mendengar

Moderator
Microfon
Inti
·         Menyebutkan pengertian pemenuhankebutuhan oksigenisasi
·         Tujuan pemenuhan kebutuhan oksigenisasi
·         Memperkenalkan alat-alat yang diperlukan dalam pemasangan oksigenisasi
·         Mendemonstrasikan didepan audiens
Mendengar
 dan mencatat


Mendengar
 dan mencatat
Mendengar
 dan mencatat
Mendengar, memperhatika, mencatat dan bertanya

Microfon,
LCD











Penutup
Evaluasi aktif
Menjawab pertanyaan

Microfon dan media peralatan praktek

Menanyakan kepada audiens tentang kejelasan pengajian kelompok
Penyaji



Mempersilahkan kepada audiens mendemonstrasikan kembali mengucapkan trimakasih
Memasang alat-alat oksigenisasi


Member salam

Moderator


7.      EVALUASI
a.       Sebutkan pengertian dari inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi,..!!
b.      Sebutkan pengertian dari pemeriksaan fisik.....!!
Jawaban
1.      Inspeksi           : Merupakan proses observasidengan menggunakan mata.
2.      Palpasi             : Dilakukan dengan menggunakan sentuhan / rabaan.
3.      Perkusi            : Perkusi adalah menentukan batas-batas organ / bagian tubuh dengan cara merasakan vibrasi yang ditimbulkan akibat adanya gerakan yang diberikan kebawah jaringan.
4.      Auskultasi       : Metode pengkajian yang menggunakan steteskop untuk memperjelas pendengaran
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.      PENGKAJIAN KEPALA DAN LEHER
v  ANATOMI KEPALA

v  ANATOMI LEHER

v  PROSEDUR PELAKSANAAN

-          Kepala
Merupakan organ tubuh yang penting dikaji karena di kepala terdapat organ-organ yang sangat berperan dalam fungsi kehidupan. Dalam pengkajian kepala, selain mengkaji kepala, organ seperti mata, telinga, hidung, mulut serta leher juga dikaji.

Prosedur
-          Inspeksi Dan Palpasi
1.      Atur posisi duduk / berdiri
2.      Aturkan untuk melepas penutup kepala / kacamata
3.      Lakukan inspeksi yaitu dengan memperhatikan kesimetrisan wajah , tengkorak, warna dan distribusi rambut, kulit kepala. Wajah normalnya simetris antara kanan dan kiri. Ketidak simetrisan wajah dapat menjadi suatu petunjuk adanya kelumpuhan / paresis saraf ke 7. Bentuk tengkorak yang normal adalah simetris dengan bagian frontal menghadap kedepan dan bagian parietal menghadap ke belakang. Distribusi rambut sangat bervariasi pada setiap orang dan kulit kepala normalnya tidak mengalami peradangan tumor, bekas luka / sikatriks.
4.      Lakukan dengan palpasi untuk mengetahui keadaan rambut, massa, pembengkakan, nyeri tekan, keadaan tengkorak dan kulit kepala








-          Mata
Cara inspeksi mata
1.   Amati bola mata terhadap protrusi, gerakan mata, lapang pandang dan visus.
2.   Amati kelopak mata, perhatikan bentuk dan kalainan dengan cara sebagai berikut.
·         Bandinkan mata kanan dan mata kiri
·         Anjurkan pasien menutup kedua mata
·         Amati bentuk dan keadaan kulit pada kelopak mata serta pinggir kelopak mata
·         Amati pertumbuhan rambut pada kelopak mata terkait ada tidaknya bulu mata dan posisi bulu mata
·         Perhatikan keluasan mata dalam membuka dan catat bila ada dropping kelopak mata atas atau sewaktu mata membuka (ptosis)

3.   Amati konjunctiva dan sklera dengan cara sebagai berikut
·         Anjurkan pasien untuk melihat lurus kedepan
·         Amati konjungtiva untuk mengetahui ada tidaknya kemerah-merahan, keadaan vaskularisasi, serta lokasinya
·         Tarik kelopak mata bagian bawah kebawah dengan menggunakan ibu jari
·         Amati keadaan konjungtiva dan kantong konjungtiva bagian bawah, catat bila didapatkan infeksi atau pus atau bila warnanya tidak normal, misalnya anemik
·         Bila diperlukan, amati konjungtiva bagian atas yaitu dengan cara membuka / membalik kelopak mata atas dengan perawat berdiri dibelakang pasien
·         Amati warna sklera saat memeriksa konjungtiva yang pada keadaan tertentu warnanya dapat menjadi ikterik
4.   Amati warna iris serta ukuran dan bentuk pupil. Kemudian mengevaluasi reksi pupil terhadap cahaya. Normalnya bentuk pupil adalah sama besar (isokor). Pupil mengecil; disebut miosis, amat kecil disebut pinpoint. Pupil yang melebar / dilatasi disebut midriasis

Cara inspeksi gerakan mata
1.      Anjurkan pasien untuk melihat lurus kedepan
2.      Amati apakah kedua mata tetap diam atau bergerak secara spontan (nistagmus) yaitu gerakan ritmis bola mata, mula-mula lambat bergerak ke suatu arah, keudian dengan cepatt ke posisi semula
3.      Bila ditemukan adanya nistagmus, amati bentuk, frekuensi (cepat atau lambat) amplitudo (luas / sempit), dan durasinya (hari/minggu)
4.      Amati apakah kedua mata memandang lurus ke depan atau salah satu mengalami deviasi
5.      Luruskan jari telunjuk dan dekatkan dengan jarak sekitar 15-30 cm
6.      Beritahu pasien untuk mengikuti gerakan jari dan pertahankan posisi kepala pasien. Gerakkan jari kedelapan arah untuk mengetahui fungsi 6 otot mata
Cara inspeksi lapang pandang
1.      Berdiri di depan pasien
2.      Kaji kedua mata secar terpisah yaitu dengan cara menutup mata yang tidak diperiksa
3.      Beritahu pasien untuk melihat lurus kedepan dan memfokuskan pada satu titik pandang, misalnya hidung
4.      Gerakkan jari pada satu garis vertikal / dari samping dekatkan kemata pasien secara perlahan-lahan
5.      Anjurkan pasien untuk memberitahu sewaktu melihat jari
6.      Kaji mata sebelahnya
Pemeriksaan Visus (ketajaman penglihatan)
1.      Siapkan kartu snellen atau kartu yang lain untuk pasien dewasa atau kartu gambar untuk anak-anak
2.      Atur kursi tempat duduk klien dengan jarak  5 atau 6 meter dari kartu snellen
3.      Atur penerangan yang memadai sehingga kartu dapat dibaca dengan jelas
4.      Beritahu pasien untuk menutup mata kiri dengan satu tangan
5.      Pemeriksaan mata kanan dengan cara pasien disuruh membaca mulai huruf yang paling besar menuju huruf yang paling kecil dan catat tulisan terakhir yang masih dapat di baca oleh pasien
6.      Lakukan juga terhadap mata yang sebelahnya
Palpasi
Cara palpasi untuk mengetahui tekanan bola mata
1.      Beritahu pasien untuk duduk
2.      Anjurkan pasien untuk memejamkan mata
3.      Lakukan palpasi pada kedua mata. Bila tekanan bola mata tinggi maka mata akan teraba keras
Cara pengkajian funduskopi
1.      Atur posisi pasien duduk di kursi
2.      Beritahu pasien tentang tindakan yang akan dikerjakan
3.      Teteskan 1-2 tetes obat yang dapat melebarkan pupil dalam jangka pendek, misalnya tropikamid (bila tidak ada kontra indikasi)
4.      Atur cahaya ruangan agak redup
5.      Duduk dikursi dihadaapan pasien
6.      Beritahu pasien untuk melihat secaratetap pada titik tertentu dan anjurkan untuk tetap mempertahankan sudut pandangnya tanpa berkedip
7.      Bila pasien atau anda memakai kacamata, hendaknya dilepas dahulu
8.      Pegang oftalmoskop, atur lensa pada angka 0, nyalakan dan arahkan pada pupil mata dari jarak sekitar 30 cm sampai ditemukan red reflex yang merupakan cahaya pancaran dari retina. Bila letak oftalmoskop tidak tepat, red reflex tidak akan muncul. Red reflex juga tidak akan muncul pada mata yang katarak
9.      Bila red reflex sudah ditemukan, dekatkan oftalmoskop secara perlahan ke mata pasien. Bila pasien miopia, atur kontrol kearah negatif (merah). Bila pasien hiperopia, atur kontrol ke arah positif (hitam)

10.  Amati fundus secara sistematis yang diawali dengan mengamati pembuluh darah besar. Catat bila ditemukan kelainan. Lanjutkan pengamatan dengan membandingkan ukuran arteri dan vena yang normalnya mempunyai perbandingan 4:5. Kemudian amati warna makula yang normalnya tampak lebih terang daripada retina. Berikutnya amati warna, batas, pigmentasi diskus optikus. Normalnya diskus optikus berbentuk melingkar berwarna merah muda agak kuning, batas terang dan tetap dengan jumlah pigmen yang bervariasi, lalu amati warna retina, kemungkinan ada perdarahan dan setiap ada kelainan.

11.  Bandingkan mata kanan dan kiri

12.  Catat hasil pengkajian dengan jelas

13.  Setelah pengkajian selesai, teteskan pilokaprin 2% untuk menetralisasi dilatasi pada mata yang diamati

14.  Tunggu / pastikan dapat melihat seperti semula




-          Telinga
Inspeksi dan palpasi
1.      Bantu pasien dalam posisi duduk. Pasien yang masih anak-anak dapat diatur duduk dipangkuan orang lain
2.      Atur posisi anda duduk menghadap sisi telinga pasien yang akan diuji
3.      Untuk pencahayaan, gunakan auriskop, lampu kepala, atau sumber cahaya yang lain sehingga tangan anda akan bebas bekerja
4.      Mulai amati telingsa luar, periksa ukuran, bentuk, warna, lesi dan adanya massa pada pinna
5.      Lanjutkan pengkajian palpasi dengan memegang telinga menggunakan ibu jari dan jari telunjuk
6.      Palpasi kartilago telinga luar secara sistematis yaitu dari jaringan lunak, kemudian jaringan keras, dan catat bila ada nyeri
7.      Tekan bagian tragus kedalam dan tekan pula tulang telinga dibawah daun telinga. Bila ada peradangan, pasien akan merasa nyeri
8.      Bandingkan telinga kiri dan telinga kanan
9.      Bila diperlukan, lanjutkan pengkajian telinga bagian dalam harus dibawah pengawasan instruktur yang berpengengalaman dan menguasai teknik pengkajian telinga bagian dalam
10.  Pegang baian pinggir daun telinga / heliks dan secara perlahan-lahan tarik daun telinga ke atas dan ke belakang sehingga lubang telinga menjadi lurus dan mudah untuk di amati. Pada anak-anak daun telinga ditarik ke bawah
11.  Amati pintu masuk lubang telinga dan perhatikan ada atau tidaknya peradangan, perdarahan atau kotoran
12.  Dengan hati-hati masukkan otoskop yang menyala ke dalam lubanng telinga.
13.  Bila letak otoskop sudah tepat, arahkan mata anda pada eyepiece
14.  Amati adanya kotoran, serumen, peradangan atau adanya benda asing pada dinding lubang telinga
15.  Amati bentuk, warna, transparansi, kilau, perforasi atau adanya darah / cairan pada membran timpani
Pemeriksaan pendengaran
      Pemeriksaan pendengaran dilakukan untuk mengetahui fungsi telinga, secara sederhana pendengaran dapat diperiksa dengan menggunakan suara bisikan. Pendengaran yang baik akan dengan mudah diketahui dengan adanya bisikan.bila pendengaran dicurigai tidak berfungsi baik, pemeriksaan yang lebih teliti dapat dilakukan dengan garputala atau tes audiometri (oleh spesialis)

Cara pemeriksaan pendengaran dengan bisikan
1.      Atur posisi pasien berdiri membelakangi anda pada jarak sekitar 4,5-6 meter
2.      Anjurkan pasien untuk menutup salah satu telinga yang tidak diperiksa
3.      Bisikkan suatu bilangan (mis: tujuh enam)
4.      Beritahu pasien untuk mengulangi bilangan yang didengar
5.      Periksa telinga sebelah dengan cara yang sama
6.      Bandingkan kemampuan mendengar telinga kanan dan kiri pasien

Pemeriksaan pendengaran dengan bisikan dapat pula dilakukan menggunakan arloji
Cara pemeriksaan pendengaran menggunakan arloji
1.      Pegang sebuah arloji di samping telinga pasien
2.      Minta pasien menyatakan apakah mendengarkan detakan arloji
3.      Pindah posisi arloji perlahan-lahan menjauhi telinga dan minta pasien menyatakan bila tidak mendengar lagi detak arloji tersebut. Normalnya detak arloji masih dapat didengar sampai jarak 30 cm dari telinga
4.      Bandingkan telinga kanan dan kiri

Cara pemeriksaan pendengaran dengan Garpu Tala
1.      Pemeriksaan pertama (rinne)
a.       Vibrasikan garpu tala
b.      Letakkan garpu tala pada mastoid kanan pasien
c.       Anjurkan pasien memberitahu sewaktu tidak merasakan getaran lagi
d.      Angkat garputala dan pegang didepan telinga kanan pasien dengan posisi garpu tala paralel terhadap lubang telinga luar pasien
e.       Anjurkan pasien untuk memberitahu apakah masih mendengar suara getaran atau tidak. Normalnya suara getaran masaih dapat didengar karena konduksi udara lebih baik daripada konduksi tulang




2.      Pemeriksaan kedua (Weber)
1.      Vibrasikan garpu tala
2.      Letakkan garputala ditengah-tengah puncak kepala pasien
3.      Tanya pasien tentang telinga yang mendengar suaragetaran lebih keras. Normalnya kedua telinga dapat mendengar secara seimbanng sehingga getaran dirasakan di tengah-tengah kepala
4.      Catat hasil pemeriksaan pendengaran
3.      Tentukan apakah pasien mengalami konduksi tulang, udara, atau keduanya



-          Hidung dan sinus

Inspeksi dan palpasi
Cara inspeksi dan palpasi  hidung bagian luar serta palpasi sinus-sinus
1.      Duduk menghadap pasien
2.      Atur penerangan dan amati hidung bagian luar dari sisi depan, samping dan sisi atas. Perhatikan bentuk atau tulang hidung dari ketiga sisi ini
3.      Amati warna dan pembengkakan pada kulit hidung
4.      Amati kesimetrisan lubang hidung
5.      Lanjutkan dengan melakukan palpasi hidung luar dan catat bila ditemukan ketidaknormalan kulit atau tulang hidung
6.      Kaji mobilitas septum nasi
7.      Palpasi sinus maksilaris, frontalis dan etmodialis. Perhatikan adanya nyeri tekan



Cara inspeksi hidung bagian dalam
1.      Duduk menghadap pasien
2.      Pasang lampu kepala
3.      Atur lampu sehingga tepat menerangi lubang hidung
4.      Elevasikan ujung hidung pasien dengan cara menekan hidung secara lembut dengan ibu jari, kemudian amati bagian anterior lubang hidung
5.      Amati posisi septum nasi dan kemungkinan adanya perfusi
6.      Amati bagian konka nasalis inferior
7.      Pasang ujung spekulum pada lubang hidung sehingga rongga hidung dapat diamati
8.      Untuk memudahkan pengamatan pada dasar hidung, atur posisi kepala sedikit mengadah
9.      Dorong kepala mengadah sehingga bagian rongga atas hidung mudah diamati
10.  Amati bentuk dan posisi septum, kartilago, dan dinding-dinding rongga hidung serta selaput lendir pada rongga hidung
11.  Bila sudah selesai, lepas spekulum secara perlahan-lahan

Cara pengkajian kepatenan jalan nafas
1.      Duduk dihadapan pasien
2.      Gunakan satu tangan untuk menutup satu lubang hidung pasien, minta pasien menghembuskan udara dari lubang hidung yang tidak di tutup dan rasakan embusan udara tersebut. Normalnya udara dapat dihembuskan dengan mudah dan dapat dirasakan dengan jelas
3.      Kaji lubang hidung sebelahnya


-          Mulu dan Faring

Inspeksi
1.      Bantu pasien duduk berhadapan dan tinggi yang sejajar dengan anda
2.      Amati bibir untuk mengetahui adanya kelainan kongenital, bibir sumbing, warna bibir, ulkus, lesi dan massa
3.      Lanjutkan pengamatan pada gigi dan anjurkan pasien membuka mulut
4.      Atur pencahayaan yang memadai dan bila diperlukan gunakan penekan lidah agar gigi agar tampak lebih jelas
5.      Amati posisi, jarak, gigi rahang atas dan bawah, ukuran warna, lesi, atau adanya tumor pada setiap gigi. Amati juga akar-akar gigi dan gusi secara khusus
6.      Periksa setiap gigi dengan cara mengetuk secara sistematis, bandingkan gigi bagian kiri, kanan, atas dan bawah serta anjurkan pasien untuk memberitahu bila merasa nyeri sewaktu gigi diketuk
7.      Perhatikan pula ciri-ciri umum sewaktu melakukan pengkajian antara lain kebersihan mulut dan bau mulut
8.      Lanjutkan pengamatan pada lidah dan perhatikan kesimetrisannya. Minta pasien menjulurkan lidah dan amati kelurusannya, warna, ulkus, dan setiap ada kelainan
9.      Amati warna, adanya pembengkakan, tumor, sekresi, peradangan, ulkus, dan perdarahan pada selaput lendir semua bagian mulut secara sistematis
10.  Beri kesempatan pasien istrahat dengan menutup mulut sejenak bila capai, lalu lanjutkan inspeksi paring dengan menganjurkan pasien membuka mulut dan menekan lidah pasien kebawah sewaktu pasien berkata “ah”. Amati kesimetrisan uvula pada faring

Cara Palpasi mulut
1.      Atur posisi pasien duduk menghadap anda
2.      Anjurkan pasien membuka mulut
3.      Pegang pipi di antara ibu jari dan jari telunjuk (jari telunjuk berada didalam). Palpasi pipi secara sistematis dan perhatiikan adanya tumor atau pembengkakan. Bila ada pembengkakan, tentukan menurut ukuran, konsistensi, hubungan dengan daerah sekitarnya dan adanya nyeri.
4.      Lanjutkan palpasi pada palatumdengan jari telunjuk dan rasakan adanya pembengkakan dan fisura
5.      Palpasi dasar mulut dengan cara meminta pasien mengatakan “el”, kemudian lakukan palpasi pada dasar mulut secara sitematis dengan jari telunjuk kanan, bila diperlukan beri sedikit penekanan dengan ibu jari dari bawah dagu untuk mempermudah palpasi. Catat bila didapatkan pembengkakan
6.      Palpasi lidah dengan cara pasien menjulurkan lidah, pegang lidah dengan kasa steril menggunakan tangan kiri. Dengan jari telunjuk tangan kanan. Lakukan palpasi lidah terutama bagian belakang dan batas-batas lidah


-          Pemeriksaan Leher

Inspeksi leher
1.      Posisi pasien duduk menghadap pemeriksa
2.      Inspeksi kesimetrisan otot-otot leher, keselarasan trakea, dan benjolan pada dasar leher serta vena jugular dan arteri karotid
3.      Mintalah pasien untuk : menundukkan kepala sehingga dagu menempel ke dada, dan menegadahkan kepala kebelakang, perhatikan dengan teliti area leher dimana nodus tersebar. Bandingkan kedua sisi tersebut

4.      Menoleh  ke kiri -kanan dan kesamping sehingga telinga menyentuh bahu. Perhatikan fungsi  otot-otot sternomastoideus dan trapesius
5.      Minta pasien menengadahkan kepala, perhatikan adanya pembesaran pada kelenjar tiroid. Selanjutnya minta pasien menelan ludah , perhatikan gerakan pada leher depan daerah kelenjar tiroid , ada tidaknya massa dan kesimetrisan

Palpasi leher
1.      Pasien posisi duduk santai dan pemeriksa dibelakangnya
2.      Pasien menundukan kepala sedikit atau mengarah kesisi pemeriksa untuk merelaksasikan jaringan dan otot-otot
3.      Palpasi lembut dengan 3 jari tangan masing-masing nodus limfe dengan gerakan memutar. Periksa masing-masing nodus limfe dengan gerakan memutar. Periksa tiap nodus dengan urutan sebagai berikut :
·         Nodus oksipital pada dasar tengkorak,
·         Nodus aurikel poterior diatas mastoideus,
·         Nodus preaurikular tepat didepan telinga,
·         Nodus tonsiliar pada sudut mandikula,
·         Nodus submaksilaris, dan nodus sunmental pada garis tengah dibelakang ujung mandibula
4.      Bandingan kedua sisi leher, Periksa ukuran, bentuk, garis luar, gerakan, konsistensi dan rasa nyeri yang timbul.
5.      Jangan gunakan tekanan berlebihan saat mempalpasi karena nodus kecil dapat terlewati.
6.      Lanjutkan palpasi nodus servikal superfisial, nodus servikal posterior, nodus servikal profunda, dan nodus supraklavikular yang terletak pada sudut yang dibentuk oleh klavikula dan otot sternomastoideus
7.      Palpasi trakea terhadap posisi tengahnya dengan menyelipkan ibujari dan jari telunjuk di masing-masing sisi pada cekungan suprasternal. Bandingkan ruang sisa antara trakea dan otot sternokleidomastoideus
8.      Untuk memeriksa kelenjar tiroid dengan posisi dari belakang. lakukan palpasi ringan dengan 2 jari dari tangan kanan kiri dibawah kartilago krikoid.
9.      Beri pasien segelas air, minta pasien menundukan dagu dan mengisap sedikit air dan menelannya, rasakan gerakan istmus tiroid.
10.  Dengan lembut gunakan dua jari untuk menggerakkan trakea kesatu sisi dan minta pasien untuk menelan lagi. Palpasi badan lobus utama dan kemudian palpasi tepi lateral dari kelenjar.
11.  Ulangi prosedur untuk lobus yang berlawanan.
12.   Informasikan hasil pemeriksaan pada pasien dan catat pada status
Pembesaran nodus limfe dapat menandakan infeksi setempat atau sistemik. Nodus yang membesar dengan cepat dan seharusnya diperiksa lebih teliti. Nodus limfe kadang-kadang tetap membesar setelah adanya infeksi tetapi biasanya tidak nyeri. Kelenjar Tiroid pada dasar terlebar berkisar 4 cm, pembesaran kelenjar tiroid mengindikasikan adanya disfungsi atau tumor kelenjar tiroid. pembesaran tiroid yang nyeri tekan menandakan infeksi. Perubahan posisi lateral trakea mungkin akibat dari suatu massa dalam leher atau mediastinum atau kelainan paru-paru.

-          Pemeriksaan Trakhea
1.      Posisi pasien duduk tegak menghadap lurus kedepan dengan leher terbuka
2.      Posisi pemeriksa di depan pasien agak kesamping.
3.      Leher pasien sedikit fleksi sehingga otot sternokleidomastoideus relaksasi.
4.      Posisi dagu pasien harus digaris tengah.
5.      Perhatikan bagian bawah trachea sebelum masuk dalam rongga dada, bagian ini paling mudah bergerak.
6.      Pemeriksa dengan menggunakan ujung jari telunjuk yang ditekankan lembut kedalam lekukan suprasternal tepat dimedial dari sendi sternoklavikularis bergantian dikedua sisi trachea
7.      Keadaan normal bila ujung jari hanya menyentuh jaringan lunak disebelah menyebelah trakhea.
8.      Bila ujung jari menyentuh tulang rawan trakhea tidak digaris median maka deviasi trakhea kearah tersebut, sedangkan sisi lain hanya menyentuh jaringan lunak.
9.      Informasikan hasil pemeriksaan pada pasien dan catat pada status
-          Pemeriksaan Dada (Thorax)
Pemeriksaan dada adalah untuk mendapatkan kesan dari bentuk dan fungsi dari dada dan organ di dalamnya. Pemeriksaan dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
Pada pemeriksaan dada yang perlu diperhatikan antara lain :
1.      Posisi pasien diusahakan duduk sama tinggi dengan pemeriksa atau berbaring tergantung bagian mana yang akan diperiksa.
2.       Daerah dada yang akan diperiksa harus terbuka
3.      Usahakan keadaan pasien santai dan relaksasi untuk mengendorkan otot-otot, terutama otot pernapasan
4.      Usahakan pemeriksa untuk tidak kontak langsung dengan pernapasan pasien, untuk menghindari penularan melalui pernapasan, caranya dengan meminta pasien memalingkan muka ke arah samping

Inspeksi dinding dada
1.      Posisi pasien duduk sama tinggi dengan pemeriksa atau berbaring
2.      Bila pasien duduk, pemeriksaan pada dada depan, kedua tangan pasien diletakkan di paha atau pinggang. Untuk pemeriksaan bagian belakang dada, kedua lengan disilangkan didepan dada atau tangan kanan dibahu kiri dan tangan kiri dibahu kanan.
3.      Bila pasien berbaring posisi lengan pada masing- masing sisi tubuh
4.      Secara keseluruhan perhatikan bentuk dan ukuran dinding dada, deviasi, tulang iga, ruang antar iga, retraksi, pulsasi, bendungan vena dan penonjolan epigastrium.
5.      Pemeriksaan dari depan perhatikan klavikula, fossa supra/infraklavikula, lokasi iga pada kedua sisi
6.      Pemeriksaan dari belakang perhatikan vertebra servikalis 7, bentuk skapula, ujung bawah skapula setinggi v. torakalis 8  dan bentuk atau jalannya kolumna vertebralis

Palpasi dada
·         Palpasi gerakan diafragma
1.      Posisi pasien berbaring terlentang menghadap pemeriksa.
2.      Posisi lengan pasien disamping dan sejajar dengan badan.
3.      Letakan kedua telapak tangan pemeriksa dengan merenggangkan jari-jari pada dinding dada depan bagian bawah pasien.
4.      Letakkan sedemikian rupa sehingga kedua ujung ibu jari pemeriksa bertemu di ujung tulang iga depan bagian bawah.
5.      Pasien diminta bernapas dalam dan kuat
6.      Gerakan diafragma normal, bila tulang iga depan bagian bawah terangkat pada waktu inspirasi .




·         Palpasi posisi tulang iga (kosta)
1.      Posisi pasien duduk atau tidur terlentang dan berhadapan dengan pemeriksa
2.      Bila duduk posisi kedua tangan  pasien dipaha atau dipinggang, bila tidur terlentang posisi kedua tangan disamping dan sejajar dengan badan.
3.      Lakukan palpasi dengan memakai jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan
4.      Palpasilah mulai dari cekungan suprasternalis ke bawah sepanjang tulang dada
5.      Carilah bagian yang paling menonjol (angulus lodovisi) kira- kira 5 cm dibawah fossa suprasternalis yaitu sudut pertemuan antara manubrium sterni dan korpus sterni dimana ujung tulang iga kedua melekat.
6.      Dari angulus lodovisi, tentukan pula letak tulang iga pertama kearah atas/ superior dan untuk tulang iga ketiga dan seterusnya kearah bawah/ inferior.


·         Palpasi tulang belakang (vertebra)
1.      Posisi pasien duduk dengan kedua tangan  dipaha atau dipinggang sambil menundukkan kepala dan  pemeriksa dibelakang pasien
2.      Pemeriksa melakukan palpasi dengan jari tangan kedua dan ketiga sepanjang tulang belakang bagian atas (leher bawah)
3.      Rasakanlah bagian yang paling menonjol pada leher bagian bawah, inilah yang disebut  prosesus spinosus servikalis ketujuh.( C7 )
4.      Dari prosesus servikalis spinosus ketujuh ( C7 ), kearah superior yaitu prosesus spinosus servikalis keenam dan seterusnya. Bila kearah inferior yaitu prosesus spinosus thorakalis pertama, kedua dan seterusnya.





·         Palpasi iktus jantung
1.      Posisi pasien duduk atau tidur terlentang dan berhadapan dengan pemeriksa
2.      Bila duduk posisi kedua tangan  pasien dipaha atau dipinggang, bila tidur terlentang posisi kedua tangan disamping dan sejajar dengan badan.
3.      Tentukan ruang antar iga ke-5 kiri yaitu ruang antara tulang iga ke-5 dan ke-6.
4.      Tentukan garis midklavikula kiri yaitu dengan menarik garis lurus yang memotong pertengahan tulang klavikula kearah inferior tubuh.
5.      Tentukan letak iktus dengan telapak tangan kanan pada dinding dada setinggi ruang antar iga ke-5 digaris midklavikula
6.       Apabila ada getaran pada telapak tangan, kemudian lepaskan telapak tangan dari dinding dada.
7.      Untuk mempertajam getaran gunakan jari ke-2 dan ke-3 tangan kanan
8.      Tentukan getaran maksimumnya, disinilah letak iktus kordis.

·         Palpasi sensasi rasa nyeri dada
1.      Posisi pasien duduk atau tidur terlentang dan berhadapan dengan pemeriksa
2.      Bila duduk posisi kedua tangan  pasien dipaha atau dipinggang, bila tidur terlentang posisi kedua tangan disamping dan sejajar dengan badan.
3.      Tentukan daerah asal nyeri pada dinding dada
4.      Dengan menggunakan ujung ibu jari tangan kanan tekanlah dengan perlahan tulang iga atau ruang antar iga dari luar menuju tempat asal nyeri
5.      Rasa nyeri akan bertambah akibat tekanan ibu jari, nyeri dapat disebabkan fraktur tulang iga, fibrosis otot antar iga, pleuritis local dan iritasi akar syaraf

·         Palpasi pernapasan dada
1.      Posisi pasien duduk dengan kedua tangan  dipaha atau dipinggang berhadapan dengan pemeriksa
2.      Letakkan kedua telapak tangan pemeriksa pada dinding dada pasien sesuai posisi yaitu telapak tangan kanan pemeriksa ke dinding dada kiri pasien, sedangkan telapak kiri pemeriksa pada dinding dada kanan pasien
3.      Letakkan jari telunjuk dibawah tulang klavikula dan jari- jari lainnya disebar sedemikian rupa sehingga masing- masing berada di tulang iga  berikutnya
4.      Pasien diminta bernapas dalam dan kuat dan perhatikan gerakan jari- jari
Pada orang muda jari-jari akan terangkat mulai dari atas disusul oleh jari- jari dibawahnya secara berturut-turut seperti membuka kipas. Sedangkan pada orang tua semua jari-jari bergerak bersama-sama

·         Palpasi getaran suara paru
1.      Posisi pasien duduk untuk pemeriksaan dada depan dan posisi duduk kedua tangan dipaha atau dipinggang.
2.      Sedangkan  posisi pasien tidur  miring untuk pemeriksaan dada belakang sesuai dengan keadaan pasien. Pada posisi tidur terlentang / miring kedua tangan disamping dan sejajar dengan badan
3.      Letakkan sisi ulnar tangan kanan pemeriksa di dada kiri pasien dan sebaliknya
4.      Minta pasien mengucapkan kata- kata seperti satu, dua, … dst berulang- ulang
5.      Pemeriksaan dilakukan mulai dari dada atas sampai dada bawah
6.       Perhatikan intensitas getaran suara dan bandingkan kanan dan kiri. Normal getaran kedua sisi sama, kecuali apeks kanan karena letaknya dekat dengan bronkus. Fremitus raba meningkat apabila terdapat konsolidasi paru, fibrosis paru selama bronkus masih tetap terbuka . Fremitus suara menurun bila ada cairan/ udara dalam  pleura dan sumbatan bronkus

Perkusi Dada
Tujuan untuk mengetahui batas, ukuran, posisi dan kualitas jaringan di dalamnya. Perkusi hanya menembus sedalam 5 – 7 cm, sehingga tidak dapat mendeteksi kelainan yang letaknya dalam. Lakukan perkusi secara sistimatis dari atas ke bawah dengan membandingkan kanan dan kiri.
·         Perkusi dada depan
1.      Posisi pasien duduk dengan kedua tangan dipaha atau dipinggang dan berhadapan dengan pemeriksa
2.      Lakukan perkusi secara dalam pada fossa supraklavikula kanan, kemudian lanjutkan kebagian dada kiri .
3.      Selanjutnya lokasi perkusi  bergeser kebawah sekitar 2- 3 cm, Begitulah seterusnya kebawah sampai batas atas abdomen
4.      Mintalah pasien untuk mengangkat kedua lengan untuk melakukan perkusi aksila dari atas kebawah di kanan dan kiri
5.      Bandingkan getaran suara yang dihasilkan oleh perkusi
normal suara dada/ paru adalah sonor. Bila redup kemungkinan adanya tumor, cairan, sekret. Suara hipersonor akibat adanya udara dalam pleura.


·         Perkusi dada belakang
1.      Posisi pasien duduk dengan kedua tangan dipaha atau dipinggang dan membelakangi pemeriksa
2.      Lakukan perkusi secara dalam pada supraskapula dada belakang kanan, kemudian lanjutkan kebagian dada kiri .
3.      Selanjutnya lokasi perkusi  bergeser kebawah sekitar 2- 3 cm, Begitulah seterusnya kebawah sampai batas atas abdomen
4.      Bandingkan suara yang dihasilkan oleh perkusi dada kanan dan kiri
Suara sonor paru kanan bila diperkusi kebawah akan lebih cepat menghilang , karena adanya keredupan hati.

·         Perkusi batas paru dan hati
1.      Posisi pasien duduk dengan kedua tangan disamping tubuh dan berhadapan dengan pemeriksa .
2.      Lakukan perkusi pada dada kanan depan dari atas kebawah secara sistimatis.
3.      Posisi pasien dirubah sehingga membelakangi pemeriksa, selanjutnya lakukan perkusi pada bagian dada  belakang dari atas kebawah secara sistimatis
4.      Pada daerah batas paru dan hati terjadi perubahan suara, dari sonor menjadi pekak/ redup. Normal batas paru bagian depan terletak antara kosta 5 dan 6, sedangkan paru bagian belakang setinggi prosesus spinosus vertebra torakalis 10 atau 11.





AUSKULTASI DADA
Auskultasi paru
Tujuan pemeriksaan auskultasi paru adalah untuk menentukan adanya perubahan dalam saluran napas dan pengembangan paru. Dengan auskultasi dapat didengarkan suara napas, suara tambahan, suara bisik dan suara percakapan.
Suara napas adalah suara yang dihasilkan aliran udara yang masuk dan keluar paru pada waktu bernapas. Pada proses pernapasan terjadi pusaran/ eddies dan benturan/ turbulensi pada bronkus dan percabangannya. Getaran dihantarkan melalui lumen dan dinding bronkus. Pusaran dan benturan lebih banyak pada waktu inspirasi/ menarik napas dibanding ekspirasi/ mengeluarkan napas, hal inilah yang menyebabkan perbedaan suara antara inspirasi dan ekspirasi. Suara napas ada 3 macam yaitu suara napas normal/ vesikuler, suara napas campuran/ bronkovesikuler dan suara napas bronkial.  Suara napas vesikuler bernada rendah, terdengar lebih panjang pada fase inspirasi daripada ekspirasi dan kedua fase bersambung/ tidak ada silent gaps. Suara napas bronkial bernada tinggi dengan fase ekspirasi lebih lama daripada inspirasi dan terputus/ silent gaps. Sedangkan kombinasi suara nada tinggi dengan inspirasi dan ekspirasi yang jelas dan tidak ada silent gaps disebut bronkovesikuler/ vesikobronkial. Suara napas vesikuler pada kedua paru normal dapat meningkat pada anak, orang kurus dan latihan jasmani,. Bila salah satu meningkat berarti ada kelainan pada salah satu paru. Suara vesikuler melemah kemungkinan adanya cairan, udara, jaringan padat pada rongga pleura dan keadaan patologi paru. Suara napas bronkial  tidak terdengar pada paru normal, baru terdengar bila paru menjadi padat, misalkan konsolidasi. Suara napas asmatik yaitu inspirasi normal/ pendek diikuti ekspirasi lebih lama dengan nada lebih tinggi disertai wheeze.
Suara tambahan dari paru adalah suara yang tidak terdengar pada keadaan paru sehat. Suara ini timbul akibat dari adanya secret didalam saluran napas, penyempitan dari lumen saluran napas dan terbukanya acinus/ alveoli yang sebelumnya kolap.  Karena banyaknya istilah suara tambahan, kita pakai saja istilah  “ Ronki” yang dibagi menjadi 2 macam yaitu ronki basah dengan suara terputus- putus dan ronki kering dengan suara tidak terputus. Ronki basah kasar seperti suara gelembung udara besar yang pecah, terdengar pada saluran napas besar bila terisi banyak secret.  Ronki basah sedang seperti suara gelembung kecil yang pecah, terdengar bila adanya secret pada saluaran napas kecil dan sedang, biasanya pada bronkiektasis dan bronkopneumonia. Ronki basah halus tidak mempunyai sifat gelembung lagi, terdengar seperti gesekan rambut, biasanya pada pneumonia dini. Ronki kering lebih mudah didengar pada fase ekspirasi, karena saluran napasnya menyempit. Ronki kering bernada tinggi disebut sibilan, terdengar mencicit/squacking,  ronki kering akibat ada sumbatan saluran napas kecil disebut wheeze.   Ronki kering bernada rendah akibat sumbatan sebagaian saluran napas besar disebut sonourous, terdengar seperti orang mengerang/ grouning,. Suara tambahan lain yaitu dari gesekan pleura/ pleural friction rub  yang terdengar seperti gesekan kertas, seirama dengan pernapasan dan terdengar jelas pada fase inspirasi, terutama bila stetoskop ditekan.






·         Auskultasi paru depan
1.      Posisi pasien duduk dengan kedua tangan dipaha atau dipinggang dan berhadapan dengan pemeriksa
2.      Tempelkan stetoskop pada dinding dada
3.      Mintalah pasien menarik napas pelan- pelan dengan mulut terbuka
4.      Dengarkan satu periode inspirasi dan ekspirasi
5.      Mulailah dari depan diatas klavikula kiri dan teruskan kesisi dinding dada kanan
6.      Selanjutnya geser kebawah 2- 3 cm dan seterusnya, sampai kedada bagian bawah
7.      Mintalah pasien mengangkat lengan nya untuk pemeriksaan di daerah aksila kanan dan kiri
8.      Bandingkan suara napas kanan dan kiri, serta dengarkan adanya suara napas tambahan


·         Auskultasi paru belakang
1.      Posisi pasien duduk dengan kedua tangan dipaha atau dipinggang dan membelakangi pemeriksa
2.      Tempelkan kepala stetoskop pada supraskapula dada belakang kiri, dan dengarkan dengan seksama, kemudian lanjutkan kebagian dada kanan
3.      Selanjutnya geser kebawah 2- 3 cm dan seterusnya, sampai kedada bagian bawah
4.      Mintalah pasien mengangkat lengan nya untuk auskultasi pada aksila posterior kanan dan kiri
5.      Bandingkan getaran suara kanan dan kiri, dengarkan adanya suara napas tambahan

·         Auskultasi daerah jantung
1.      Posisi pasien berbaring dengan sudut 30 derajat
2.      Mintalah pasien relak dan bernapas biasa
3.      Tempelkn kepala stetoskop pada  ictus cordis dengarkan suara dasar jantung
4.      Bila auskultasi dengan corong stestokop untuk daerah apek dan ruang interkosta 4 dan 5 kiri kearah sternum. Dengan membran untuk ruang interkosta 2 kiri kearah sternum
5.      Perhatikan irama dan frekuensi suara jantung
6.      Bedakan irama systole, diastole dan intensitasnya
7.      Perhatikan suara tambahan yang mungkin timbul
8.      Gabungkan auskultasi dengan kualitas pulsus (denyut nadi)
Tentukan daerah penjalaran bising dan titik maksimumnya

BAB III
PENUTUP

1.      KESIMPULAN
Pemeriksaan klinis atau lebih dikenal dengan nama pemeriksaan fisik adalah sebuah proses dari seorang ahli medis seperti bidan ataupun dokter dalam memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Hasil pemeriksaan fisik ini akan dicatat dalam sebuah rekam medis. Rekam medis dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam penegakkan diagnosis dan perencanaan perawatan pasien.
Biasanya, pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis, mulai dari bagian kepala dan berakhir pada anggota gerak dengan urutan teknik pemeriksaan seperti inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Pada pemeriksaan abdomen auskultasi dilakakukan setelah inspeksi baru kemudian palpasi dan perkusi. Auskultasi dilakukan sebelum kita melakukan palpasi dan perkusi dengan tujuan agar hasil pemeriksaan auskultasi lebih akurat karena kita belum melakukan manipulasi terhadap abdomen.

2.      SARAN
Dalam upaya penegakkan diagnosis, seorang klinisi harus menguasai bagaimana melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang sistematis dan benar. Banyak hal yang dapat digali pada anamnesis sehingga dengan anamnesis yang baik seorang klinisi dapat mengarahkan kemungkinan diagnostic pada seorang penderita, sehingga dengan melakukannya secara cermat dan sistematis. Pemeriksaan fisik yang peretama kali dilakukan adalah memeriksa keadaan umum dan tanda vital, kemudian dilakukan pemeriksaan kepala dan leher.
DAFTAR PUSTAKA

Robert. P (2007). Pengkajian Fisik Keperawatan Edisi II
Bates, B. (1991).  A Guide to Physical Examination and History Taking (5th ed). New York: J.B. Lippincot.
http//www.goegle.com//pengkajian_fisik.co.ac

No comments:

Post a Comment