Wednesday, May 23, 2012

ASKEP HERNIA FEMORALIS


ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN HERNIA FEMORALIS

D
I
S
U
S
U
N

OLEH:
KELOMPOK VIII
1. Hartatina
2. Anita SP
3. Martiana
4. Resti
5. Franky
6. U. Fajar 

 

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
STIKes SANTA ELISABETH MEDAN
T.A. 2011/2012




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Hernia femoralis adalah berupa benjolan di lipat paha melalui anulus femoralis. Selanjutnya isi hernia masuk ke dalam kanalis femoralis yang berbentuk corong sejajar dengan pembuluh darah balik paha (vena femoralis). Sepanjang sekitar 2 cm dan keluar pada fosa ovalis di lipat paha. Penonjolan kantong peritoneum terletak dibawah ligamentum inguinale di antara ligamentum lakunare di medial dan vena femoralis di lateral (http://duniabaca.com/jenis-jenis-penyakit-hernia-dan-pengobatannya.html#2).
Hernia femoralis ini sering dijumpai pada perempuan tua, dengan perbandingan perempuan dan laki – laki yaitu 4:1 . Hernia jenis ini dipicu karena obesitas, kehamilan lebih dari 1 anak (kehamilan multi para). Hernia femoralis adalah hernia yang relatif jarang, terhitung hanya 3% dari semua hernia. (http://duniabaca.com/jenis-jenis-penyakit-hernia-dan-pengobatannya.html#2).
Hernia femoralis dapat terjadi pada pria dan wanita, hampir semua dari mereka mengalami penyakit ini disebabkan  karena struktur tulang  panggul wanita yang lebih luas. Hernia femoralis lebih sering terjadi pada orang dewasa dibandingkan pada anak. Pada anak mungkin dihubungkan dengan gangguan jaringan ikat atau dengan kondisi yang meningkatkan tekanan intraabdomen. 70 % kasus pediatrik hernia femoralis terjadi pada bayi di bawah usia 1 tahun (Article wikipedia).
Pada pasien dengan hernia hiatal dilakukan adalah dengan operasi yang terdiri atas herniotomi dan  hernioplastik dengan tujuan menjepit anulus femoralis (Herrysyu, 2011).





BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2. 1 Konsep Dasar Medik
a.      Pengertian
          Hernia femoralis adalah berupa benjolan di lipat paha melalui anulus femoralis. Selanjutnya isi hernia masuk ke dalam kanalis femoralis yang berbentuk corong sejajar dengan pembuluh darah balik paha (vena femoralis) (http://duniabaca.com/jenis-jenis-penyakit-hernia-dan-pengobatannya.html#2).
Hernia femoralis adalah benjolan  di bagian atas paha dekat selangkangan. Hernia terjadi ketika isi perut (biasanya bagian dari usus kecil) mendorong melalui titik lemah atau robek dinding otot yang tipis dari perut (http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001136.htm).

b.      Anatomi dan Fisiologi

  Description: http://herrysetyayudha.files.wordpress.com/2011/11/hernia10.jpg?w=604&h=727                Description: http://herrysetyayudha.files.wordpress.com/2011/11/hernia-4.jpg?w=604                                 
                          Gambar hernia femoralis
Kanalis femoralis terletak dimedial dari vena vemoralis didalam lakuna vasorum, dorsal dari ligamnetum inguinalis, tempat vena safena bermuara didalam vena femoralis. Foramen ini sempit dan dibatasi oleh tepi yang keras dan tajam. Batas kranioventral dibentuk oleh ligamen inguinalis, kaudodorsal oleh pinggir os pubis dari ligamen iliopektineale (ligamen cooper), sebelah lateral oleh vena femoralis, dan disebelah medial oleh ligamen lakunare gimbenarti.
Kantung hernia femoralis berasal dari kanalis femoralis melalui suatu defek pada sisi medial sarung femoralis (femoral sheath). Kanalis femoralis berisi satu atau dua kelenjar limfe, yang terbesar disebut dengan Cloquet. Nodus-nodus ini di­desak keluar dari kanalis femoralis oleh suatu penonjolan peritoenal dan seringkali membentuk massa yang dapat dipalpasi. Hernia femoralis keluar melalui lakuna vasorum kaudal dari ligamen inguinalis. Kelainan anatomi ini mengakibatkan inkaserasi hernia femoralis (Mutaqin, 2011).
Pintu masuk hernia femoralis adalah anulus femoralis. Selanjutnya, isi hernia masuk ke dalam kanalis femoralis yang berbentuk corong sejajar dengan vena femoralis sepanjang kurang lebih 2 cm dan keluar pada fosa ovalis di lipat paha. Hernia femoralis hampir selalu terlihat sebagai massa yang iredusibel, meskipun kantungnya mungkin kosong, karena lemak dan kelenjar limfe dari kanalis melingkari kantung. Kelenjar limfe tunggal yang membesar dapat meniru hernia  femoralis dengan sangat tepat (Herrysyu, 2011).
c.       Etiologi
Penyebab hernia femoralis sama seperti hernia inguinalis, yaitu:
1)        Defek kongenital
2)        Perubahan struktur fisik
3)        Peningkatan tekanan intra abdomen akibat dari kehamilan atau kegemukan
4)        Batuk yang kuat / kronis
5)        Konstipasi kronis
6)        Mengangkat bebab berat
7)        Aktifitas, seperti atlet angkat besi, balap sepeda dan berbagai jenis olahraga lainnya
d.      Patofisiologi
Hernia femoralis berkembang dengan proses waktu, dengan berbagai aktivitas yang meningkatkan tekanan intra abdomen akan meningkatkan progresifitas hernia. Peningkatan tekanan intraabdomen akan mendorong lemak preperitoneal kedalam kanalis femoralis yang akan menjadi pembuka jalan terjadinya hernia (Mutaqin, 2011).
Kurangnya tonus otot abdominal, obesitas, dan kehamilan multipara juga meningkatkan resiko pada wanita untuk mengalami hernia femoralis. Hernia femoralis sekunder dapat terjadi sebagai komplikasi herniorafi pada hernia inguinalis, terutama yang memakai teknik bassini atau soldice yang menyebabkan fasia transversa dan ligamentum inguinale lebih bergeser keventrokranial sehingga kanalis femoralis lebih luas. Sebagian besar hernia femoralis berkembang hanya pada satu sisi, tetapi sekitar 15% dari hernia femoralis bersifat bilateral dan kondisi hernia bilateral cenderung lebih tinggi untuk terjadi hernia strangulasi, serta sekitar 20% hernia bisa berkembang menjadi hernia inclarserata (Mutaqin, 2011).
Hernia femoralis sekunder dapat terjadi sebagai komplikasi herniorafi pada hernia inguinallis yang menyebabkan fasia transversa dan ligamentum inguinale tergeser ke ventrokranial sehingga kanalis femoralis lebih luas. Hernia femoralis keluar di sebelah ligamentum inguinale pada fosa ovalis. Kadang-kadang hernia femoralis tidak teraba dari luar (Herrysyu, 2011).

Pathway























e.       Manifestasi klinik
Pada hernia femoralis kadang tidak menimbulkan gejala. Tapi ada beberapa gejala yang sering tampak yaitu:
1.        Tampak adanya tonjolan dipaha bagian atas sebelah pangkal paha
2.        Nyeri pada benjolan dipaha
3.        Ketidaknyamanan pangkal paha yang lebih buruk ketika  berdiri dan mengangkat benda berat
4.        Kadang-kadang sakit perut, mual, dan muntah
5.        Sakit waktu kencing (dysuria) disertai hematuria (kencing darah) disamping benjolan di bawah sela paha.
f.       Komplikasi
Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami isi hernia. Isi hernia dapat tertahan dalam kantong hernia pada hernia ireponible ini dapat terjadi jika isi hernia terlalu besar, misalnya  terdiri dari omentum, organ ekstraperitoneal atau merupakan hernia akreta.
Bila cincicn hernia sempit, kurang elastis, atau lebih kaku seperti pada hernia femoralis dan hernia obturatoria, lebih sering terjadi jepitan parsial. Jarang terjadi inkaserasi retrograd, yaitu dua segmen usus terperangkap di dalam kantong hernia dan satu segmen lainnya berdada dalam rongga peritoneum.
Jepitan cincicn hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udema organ atau struktur di dalam hernia dan transudasi ke dalam kantong hernia makin bertambah sehingga akhirnya peredarah darah jaringan terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia akan berisi transudat beruapa cairan serosanguinis. Kalau isi hernia terdiri atas usus, dapat terjadi :
1)      Strangulasi (penyumbatan aliran darah)
2)       Gangguan perfusi jaringan
3)      Perforasi usus
4)      Abses lokal
5)      Fistel
6)      Peritonitis
(http://herrysetyayudha.wordpress.com/tag/hernia-femoralis/)
g.      Prognosis
Ketika operasi dilakukan untuk memperbaiki hernia, prospek umumnya baik. Lengkap pemulihan diharapkan setelah bedah hernia. Hanya 1,5% hingga 3% dari semua hernia kambuh. Kemungkinan kambuh tergantung pada ukuran dan beratnya hernia, sejarah dari setiap operasi hernia sebelumnya, adanya faktor predisposisi, dan teknik bedah yang digunakan untuk diperbaiki.
 Beberapa penderita hernia tida langsung sembuh setelah operasi. Menggunakan sebuah patch jala sintetis untuk memperkuat daerah selangkangan (hernioplasty) dapat mengurangi risiko kekambuhan. Sebuah hernia terjepit dapat mengancam hidup jika tidak ditangani (http://www.mdguidelines.com/hernia-inguinal-and-femoral/prognosis).
h.      Pemeriksaan Diagnostik
1.    Pemeriksaaan kultur jaringan untuk mendeteksi adanya adenitis tuberkulosa
2.    Foto polos abdomen untuk mendeteksi adanya udara pada usus untuk mendeteksi adanya ileus
3.    CT Scan untuk mendeteksi adanya hernia ekstra kolon
4.    Pemeriksaan fisik yang didapatkan sesuai dengan manifestasi klinik hernia femoralis. Pada surfei umum pasien pemeriksaan fisik fokus akan didapatkan:
·      Inspeksi : secara umum akan terlihat penonjolan abnormal pada lipatan paha. Apabila tidak terlihat dan terdapat adanya riwayat penonjolan, maka pemeriksaan sederhana pasien didorong untuk melakukan aktiitas peningkatan intra abdominal, seperti mengedan untuk menilai adanya penonjolan pada lipatan paha.
·      Palpasi : nyeri tekan pada lipatan paha dan paha atas.
·      Auskultasi : penurunan bising usus atau tidak ada menandakan gejala obstruksi intestinal.
(Mutaqin, 2011)
i.        Penatalaksanaan
Pada pasien dengan hernia femoralis  bisa dilakukan dengan pengobatan konservatif maupun tindakan definitif berupa operasi. Tindakan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Pengurangan hernia secara non-operatif dapat segera dilakukan dengan berbaring, posisi pinggang ditinggikan, lalu diberikan analgetik (penghilang rasa sakit) dan sedatif (penenang) yang cukup untuk memberikan relaksasi otot. Perbaikan hernia terjadi jika benjolan berkurang dan tidak terdapat tanda-tanda klinis strangulasi.
Operasi terdiri dari herniotomy disusul dengan hernioplasty dengan tujuan menjepit annulus femoralis. Hernia femoralis dapat didekati dari krural. Inguinal, atau kombinasi keduanya. Pendekatan krural yang tanpa membuka kanalis inguinalis dipilih pada perempuan. Pendekatan kombinasi dapat dipilih pada hernia femoralis inkaserata, hernia residif atau kombinasi dengan hernia ingunalis. Pada pendekatan krural, hernioplasty dapat dilakukan dengan menjahitkan ligamentun inguinal ke ligamentum cooper. Teknik Bassini melalui region ingunalis, ligamentum inguinale dijahitkan ke ligamentum gimbernati.
Operasi merupakan penatalaksanaan rasional hernia inguinalis, terutama jenis yang strangulasi. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Jika reposisi tidak berhasil, dalam waktu 6 jam harus dilakukan operasi segera. Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan hernioplastik.
Pada hernioplastik dilakukan tindakan memperkecil anulus inginalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Dikenal berbagai metode hernioplastik, seperti memperkecil anulus inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup, dan memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan muskulus transversus internus abdominis dengan muskulus oblikus internus abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale Poupart menurut metode Bassini. Metode ini memperbaiki orifisium miopektineal, superior dari ligamentum inguinalis, yaitu anulus profunda dan segitiga Hesselbach, sehingga dapat diterapkan baik pada hernia direk maupun indirek.
2.2 Konsep Dasar Keperawatan
a. Pengkajian Keperawatan
1.    Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan.
Kaji status riwayat kesehatan yang pernah dialami klien (keluhan yang dialami klien), apa upaya dan dimana klien mendapat pertolongan kesehatan, lalu apa saja yang membuat status kesehatan klien menurun.
2.    Pola nutrisi metabolik.
Tanyakan kepada klien tentang jenis, frekuensi, dan jumlah klien makan dan minum  klien dalam sehari. Kaji apakah klien mengalami anoreksia,mual atau muntah dan haus terus menerus. Kaji selera makan berlebihan atau berkurang, ataupun adanya terapi intravena, penggunaan selang NGT, timbang juga berat badan, ukur tinggi badan, lingkaran lengan atas serta hitung berat badan ideal klien untuk memperoleh gambaran status nutrisi
3.    Pola eliminasi.
Kaji terhadap frekuensi, karakteristik, kesulitan/masalah dan juga pemakaian alat bantu seperti folly kateter, ukur juga intake dan output setiap shift. Kaji  apakah klien mengalami distensi abdomen, ketidakmampuan defekasi dan Flatus.

4.    Pola aktivitas dan latihan
Kaji kemampuan beraktivitas baik sebelum sakit atau keadaan sekarang dan juga penggunaan alat bantu seperti tongkat, kursi roda dan lain-lain. Tanyakan kepada klien tentang penggunaan waktu senggang. Adakah keluhan pada pernapasan, jantung seperti berdebar, nyeri dada, badan lemah.
5.    Pola tidur dan istirahat
Tanyakan kepada klien kebiasan tidur sehari-hari, jumlah jam tidur, tidur siang. Bagaimana suasana tidur klien apakah terang atau gelap. Sering bangun saat tidur dikarenakan oleh nyeri, gatal, berkemih, sesak dan lain-lain.
6.    Pola persepsi kognitif
Tanyakan kepada klien apakah menggunakan alat bantu pengelihatan, pendengaran. Adakah klien kesulitan mengingat sesuatu, bagaimana klien mengatasi rasa tidak  nyaman : nyeri. Adakah gangguan persepsi sensori seperti pengelihatan kabur, pendengaran terganggu. Kaji tingkat orientasi terhadap tempat waktu dan orang.
7.    Pola persepsi dan konsep diri
Kaji tingkah laku mengenai dirinya, apakah klien pernah mengalami putus asa/frustasi/stress dan bagaimana menurut klien mengenai dirinya.
8.    Pola peran hubungan dengan sesama
Apakah peran klien dimasyarakat dan keluarga, bagaimana hubungan klien di masyarakat dan keluarga dan teman kerja. Kaji apakah ada gangguan komunikasi verbal dan gangguan dalam interaksi dengan anggota keluarga dan orang lain.


9.    Pola produksi seksual
Tanyakan kepada klien tentang penggunaan kontrasepsi dan permasalahan yang timbul. Berapa jumlah anak klien dan status pernikahan klien.
10.    Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stres
Faktor yang membuat klien marah dan tidak dapat mengontrol diri, tempat klien bertukar pendapat dan mekanisme koping yang digunakan selama ini. Kaji keadaan klien saat ini terhadap penyesuaian diri, ungkapan, penyangkalan/penolakan terhadap diri sendiri.
11.    Pola system kepercayaan
Kaji apakah klien sering beribadah, klien menganut agama apa? Kaji apakah ada nilai-nilai tentang agama yang dianut klien bertentangan dengan kesehatan.
b. Diagnosa Keperawatan
1.      Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang adekuat.
2.      Ketidak seimbangan cairan tubuh berhubungan dengan keluarnya cairan tubuh dari muntah dan obstruksi intestinal.
3.      Nyeri berhubungan dengan respon inflamasi lokal dan kerusakan jaringan lunak pasca bedah.
4.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya port de entree luka pasca bedah.
c. Intervensi Keperawatan
1. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang adekuat.

     NOC:
·         Pasien dapat menunjukkan metode menelan makanan yang tepat
·         Intake makanan menjadi adekuat
·         Berat badan pada hari ketuju pasca operasi meningkat 0,5 kg.
NIC:
1.      Kaji toleransi fisik terhadap asupan nutrisi .
Rasional :pasien dengan hernia hiatal mempunyai tingkat fariasi terhadap toleransi intake nutrisi.
2.      Evaluasi adanya alergi makanan dan kontraindikasi makanan.
Rasional: beberapa pasien mungkin mengalami alergi makanan terhadap makanan tertentu.
3.      Pantau intake dan output, anjurkan untuk timbang berat badan secara periodik.
Rasional: berguna dalam mengukur keefektikan nutrisi dan dukungan cairan
4.      Beri makanan halus atau makanan cair secara bertahap dan dicampur dengan air.
Rasional: makanan halus dapat memenuhi diet normal, yang dapat dimkan melalui NGT.
2. Ketidak seimbangan cairan tubuh berhubungan dengan keluarnya cairan tubuh dari muntah dan obstruksi intestinal.
NOC:
·      Keseimbangan cairan optimal
·      Pasien menunjukkan muntah berkurang
NIC :
1.    Kaji membran mukosa, turgor kulit dan pengisian kapiler
Rasional : indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler
2.      Pantau intake dan out put, catat warna urine /konsentrasi
Rasional: penurunan haluaran urine dengan peningkatan berat jenis diduga dehidrasi / kebutuhan peningkatan cairan.
3.      Auskultasi bising usus dan catat gerakan usus
Rasional : indikator kembalinya peristaltik, kesiapan untuk pemasukan peroral
4.      Berikan sejumlah kecil minuman bila masukan peroral dimulai dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi.
Rasional : menurunkan iritasi gaster / muntah untuk meminimalkan kehilangan cairan.
5.      Kolaborasi pemberian cairan Intra vena
Rasional : membantu meningkatkan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
3. Nyeri berhubungan dengan respon inflamasi lokal dan kerusakan jaringan lunak pasca bedah
NOC:
·         Dalam waktu 1 x 24 jam pasca operasi respon dan tingkat nyeri berkurang.
·         Pasien mampu melakukuan manajemen nyeri non farmakologi apabila sensani nyeri muncul.
·         Ekspresi pasien rileks dan mampu melakuakn mobilitas ringan dengan nyeri yang terkontrol .
NIC:
1.      Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan untuk meredakan nyeri non farmakologi dan non invasif .
Rasional: menunjukkan keefektikan dalam mengurangi nyeri.
2.      Istirahatkan pasien pada saaat nyeri muncul.
Rasional: istirahat secara fisiologis dapat menurunkan stimulus nyeri.
3.      Aarkan teknik relaksasi pernapasan dalam pada saat nyeri muncul.
Rasional: meningkatkan asupan oksigen untuk menurunkan nyeri sekunder dan iskemia intestinal.
4.      Manajemen lingkungan: lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan
istirahatkan pasien.
Rasional: lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung membantu meningkatkan kondis oksigen ruangan, istirahat akan menurunkan kebutuhan  oksigen  ke jaringan perifer.
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya port de entree luka pasca bedah.
NOC:
·      Dalam waktu 2 x 24 jam tidak terjadi infeksi.
·      Terjadi perbaikan pada integritas pada jaringan lunak.
·      Tidak ada tanta-tanda infeksi dan peradangan pada area luka pembedahan.
NIC:
1.      Kaji jenis pembedahan, dan lakukan perawatan luka.
Rasional: mengidentifikasi kemajuan terhadap luka pembedahan dan mencegah kontaminasi kuman ke luka bedah.
2.      Bersihkan luka dan drainase dengan cairan antiseptik dari arah dalam ke luar.
Rasional: mengoptimalkan dan mencegah kontaminasi  kuman ke jaringan luka .
3.      Tutup luka dan penampang eksternal dengan kasa steril.
Rasional: penutupan secara menyeluruh dapa menghindari kontaminasi dari benda atau udara yang bersentuhan dengan luka operasi.
4.      Kaji kondisi luka dan laporkan bila di temukan tanda –tanda infeksi.
Rasional: adanya respon peradangan akan mengganggu dan memerlukan intervensi dari ahli bedah.
5.      Kolaborasi penggunaan antibiotik.
Rasional: antibiotik diberikan selama 3 hari pasca operasi untuk mencegah terjadinya infeksi.
d.   Evaluasi
Kriteria evaluasi yang diharapkan dapat diketahui setelah melaksanakan intervensi keperawatan pada pasien hernia femoralis, meliputi hal-hal berikut:
1.      Asupan nutrisi harian terpenuhi
2.      Keseimbangan cairan optimal
3.      Nyeri berkurang atau teradaptasi
4.      Tidak terjadi infeksi luka pasca bedah

e.    Discharge Planning
1)        Persiapan home care
Klien yang mengalami herniotomy atau hernioplasty dapat kembali normal dengan cepat. Sebagain besar, operasi hernia dilakukan pada pasien rawat jalan dasar, klien dapat melakukan kegiatan secara normal lagi dalam jangka waktu 2 minggu setelah operasi.
2)        Pendidikan klien atau keluarga
Perawat mengajarkan klien untuk melanjutkan diet yang seperti biasa. Klien perlu didorong untuk mengkonsumsi empat kelompok makanan sehat dan mengandung serat dalam jumlah yang biasa. Pada umumnya klien diinstruksikan untuk tidak mengangkat benda-benda berat selama 2 minggu setelah operasi. Tergantung pada lokasi pembedahan dan kondisi fisik klien. Klien diinstruksikan untuk merawat lukanya sampai kering dan tetap dalam keadaan bersih yaitu dengan menggantikan pakaian harian steril. Jika dokter mengizinkan, mandi diperbolehkan. Jika klien menerima obat apapun di rumah, perawat harus mengkaji tentang tujuan pengobatan tersebut, dosis, frekuensi dan waktu administrasi, dan potensi efek samping. Karena banyak obat yang dapat menghilangkan rasa sakit namun dapat menyebabkan sembelit dan dengan demikian meningkatkan tegang.

3)   Persiapan psikososial
Klien dapat pulang setelah operasi hernia jika klien dapat beradaptasi dengan kondisinya. Klien mungkin memerlukan dukungan sebagai adaptasi untuk pemulihan pasca-operasi. Beberapa orang takut akan recurrene dari herniasi. Oleh karena itu, klien membutuhkan penjelasan melalui proses penyembuhan dan instruksi mengenai mekanika tubuh yang tepat dan mengangkat.
4). Sumber kesehatan
Jika klien sudah pulang ke rumah, harus ada persediaan untuk kebutuhan klien selama 3 sampai 5 hari. Jika klien tidak dapat melakukan perawatan insisi secara independen, kunjungan oleh seorang perawat dari rumah sakit dapat diatur untuk tindak lanjut di rumah.





















BAB V
PENUTUP
            Setelah pelaksanaan Asuhan Keperawatan dengan Hernia Femoralis, maka dapat dibuat kesimpulan dan saran yang dapat bermanfaat bagi pengembangan dan peningkatan pelayanan keperawatan pada umumnya serta perawatan pasien dengan hernia femoralis khususnya.
A. Kesimpulan
1. Pengkajian
            Dalam pengkajian pada pasien dengan hernia femoralis, perawat diharapkan mampu melakukan pengkajian fisik yang akurat, sehingga mampu menentukan diagnosa keperawatan yang lebih pasti dan terlebih dahulu menguasai konsep teoritis dan pengkajian dengan data.
2. Diagnosa Keperawatan
       Pada tahap diagnosa dapat disimpulkan, bahwa dalam Asuhan Keperawatan pada pasien dengan hernia femoralis terdapat 4 diagnosa keperawatan, yaitu:
1.      Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang adekuat.
2.      Ketidak seimbangan cairan tubuh berhubungan dengan keluarnya cairan tubuh dari muntah dan obstruksi intestinal.
3.      Nyeri berhubungan dengan respon inflamasi lokal dan kerusakan jaringan lunak pasca bedah.
4.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya port de entree luka pasca bedah.





























1.    ­­­­­


     







No comments:

Post a Comment